MediaMU.COM

MediaMU.COM

Portal Islam Dinamis Berkemajuan

Jun 17, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Bedah Buku "Politik Sirkulasi Budaya Pop"

JAKARTA — Di era digital ini para peneliti, akademisi dan para pakar harus menjadi buzzer di media sosial untuk mengimbangi dampak sosial dari buzzer awam.

Hal itu dikatakan Wahyudi Akmaliyah, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam acara bedah buku “Politik Sirkulasi Budaya Pop” di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Para peneliti, akademisi dan pakar sangat penting untuk terlibat di media sosial. “Sayangnya, mereka kurang menshare hasil pemikirannya di media sosial,” kata Wahyudi Akmaliyah.

Menurut Wahyudi Akmaliyah, perlu juga bagi akademisi memiliki ketekunan meladeni interaksi para followernya. “Sehingga pemikiran dan hasil penelitian mereka bisa diketahui publik secara luas,” ujar Wahyudi di depan 75 orang peserta bedah buku yang diselenggarakan Balai Litbang Agama Jakarta ini.

Wahyudi yang juga penulis buku “Politik Sirkulasi Budaya Pop” ini mengatakan para peneliti, akademisi dan para pakar masih banyak yang  kurang aktif di media sosial dan tidak popular dunia maya karena kesibukannya.

“Mereka biasanya menuliskan pendapatnya biasanya bukan lewat medsos tetapi dalam jurnal, opini di media cetak dan semacamnya,” ungkap Wahyudi Akmaliyah.

Tumbuhnya media sosial (medsos) di internet itu, bagi Wahyudi Akmaliyah, memunculkan figur-figur baru yang dalam bahasa medsos disebut sebagai micro-celebrity. “Mereka inilah yang dinamakan buzzer,” tandas Wahyudi Akmaliyah, yang menambahkan mereka ini umumnya memiliki followers yang banyak dan selalu merespon berbagai  macam isu kemudian didengarkan oleh followersnya.

Semakin banyak followers pengaruhnya semakin luas. Karena para peneliti atau akademisi kurang aktif  mempublikasikan hasil pemikirannya di media sosial, akhirnya banyak masyarakat yang lebih percaya pada buzzer yang memiliki banyak followers. “Meskipun secara keilmuan dan kompetensinya diragukan,” ungkap Wahyudi Akmaliyah yang menambahkan hal itu sangat berbahaya.

Sementara itu, Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Nurudin, mengatakan, era digital ini semua harus siap untuk mengikuti segala perkembangan trend serta update yang terjadi di dunia online.

“Perubahan dan perkembangan ini terjadi sangat cepat, bahkan bisa terjadi tanpa kita sendiri menyadari telah terjadi perubahan tersebut,” kata Wahyudi Akmaliyah.

Strategi publikasi ilmiah yang popular berpotensi memiliki manfaat yang lebih luas dari sisi penikmat atau pembacanya. Dan, Balai Litbang Agama Jakarta sudah mulai mendigitalisasi semua produk penelitiannya. Termasuk buku-buku dan jurnal ilmiah. “Hal ini untuk memudahkan masyarakat mengakses,” ujar Nurudin. (*/Affan)

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here